Ancaman Belalang Kayu (Valanga nigricornis) pada Tanaman dan 3 Cara Mengendalikannya

belalang kayu

Belalang sering dianggap hama biasa, tapi belalang kayu (Valanga nigricornis) justru bisa jadi ancaman serius di sektor perkebunan. Serangannya memang terlihat ringan di awal, namun jika dibiarkan, hama ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman bahkan menyebabkan kerugian ekonomi.

Lalu, seperti apa sebenarnya karakteristik belalang kayu dan bagaimana cara mengendalikannya secara efektif?

Mengenal Belalang Kayu (Valanga nigricornis)

BELALANG KAYU

Belalang kayu merupakan serangga dari ordo Orthoptera dan famili Acrididae. Hama ini mengalami metamorfosis tidak sempurna, yaitu melalui tiga tahap:

  • Telur
  • Nimfa (larva)
  • Dewasa

Telur biasanya diletakkan di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 5–8 cm dan dilindungi oleh lapisan busa yang mengeras. Menariknya, telur ini umumnya menetas saat awal musim hujan (Oktober–November)—periode di mana populasi mulai meningkat.

Pada fase nimfa, warna tubuh belalang kayu adalah hijau muda. Warna ini kemudian berubah menjadi kuning kehijauan saat belalang mulai berkembang dewasa. 

Belalang dewasa sendiri memiliki warna tubuh abu-abu kecoklatan, dengan panjang tubuh 49-71 mm.

Persebaran dan Tanaman yang Diserang

belalang kayu

Hama ini banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Habitat utamanya adalah hutan jati, tetapi saat sumber makanan terbatas, belalang kayu akan berpindah ke tanaman lain. Adapun tanaman yang sering diserang:

  • Kelapa sawit
  • Kopi & kakao
  • Jagung & tebu
  • Pisang & mangga
  • Singkong & kapas

Karena kemampuannya menyerang banyak jenis tanaman, hama ini tergolong polifag (pemakan berbagai tanaman).

Dampak Serangan pada Perkebunan

Pada tanaman seperti kelapa sawit, belalang kayu biasanya menyerang daun muda, terutama di fase pembibitan. Dampak yang ditimbulkan belalang kayu meliputi:

  • Daun berlubang atau terkikis di bagian tepi 
  • Pertumbuhan tanaman terhambat
  • Risiko kematian tanaman (jika populasi tinggi)

Data lapangan Ditjenbun, menemukan bahwa pada tahun 2019–2020, tercatat serangan belalang kayu hingga: 

  • 735 hektar pada tanaman mete (NTB)
  • 32 hektar kelapa sawit (Kalimantan Selatan)

Ini menunjukkan bahwa meskipun sering dianggap ringan, dampak belalang kayu bisa meluas jika tidak dikendalikan.

3 Cara Mengendalikan Belalang Kayu

belalang kayu

Pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan beberapa metode, baik alami maupun biologis.

1. Pengendalian Biologis (Beauveria bassiana)

Salah satu metode yang cukup populer untuk membasmi belalang kayu adalah menggunakan jamur entomopatogen Beauveria bassiana. Cara kerjanya adalah sebagai berikut:

Jamur ini menginfeksi tubuh belalang dan menyebabkan kematian secara bertahap. Namun, efektivitasnya bisa dipengaruhi oleh:

  • Sinar matahari (UV merusak jamur)
  • Suhu tinggi
  • Perilaku belalang yang aktif bergerak

Artinya, metode ini efektif tapi tidak selalu maksimal di lapangan.

2. Pestisida Nabati (Alami)

Alternatif lain adalah menggunakan pestisida dari bahan alami seperti:

  • Batang brotowali
  • Daun tembakau
  • Daun sirsak

Cara penggunaan:

  • Disemprotkan langsung ke belalang dan tanaman
  • Dilakukan pagi dan sore hari

 Metode ini lebih ramah lingkungan, tapi tetap butuh konsistensi aplikasi. 

3. Metode Kombinasi

pengendalian sering tidak cukup dengan satu metode saja. Untuk hasil optimal, biasanya digunakan pendekatan kombinasi:

  • Monitoring populasi sejak awal musim hujan
  • Penggunaan pestisida nabati secara rutin
  • Pengendalian biologis sebagai tambahan
  • Sanitasi area perkebunan 

Ada beberapa alasan kenapa belalang kayu cukup sulit dikontrol:

  1. Mobilitas tinggi → mudah berpindah antar tanaman
  2. Daya tahan tubuh kuat → belalang punya daya tahan tubuh kuat terhadap patogen
  3. Perilaku berjemur → membantu mereka melawan infeksi jamur
  4. Siklus musiman → populasi meledak saat musim hujan 

Baca juga: Banyak Cacing di Rumah? Ini 5 Cara Membasminya! 

Kapan Perlu Penanganan Profesional?

belalang kayu

Jika kondisi sudah parah, populasi belalang akan meningkat cepat. Hal ini akan memperluas kerusakan di kebun atau taman. Metode pembasmian alami pun tidak lagi efektif. 

Artinya, dibutuhkan penanganan belalang kayu yang lebih terukur dan sistematis. Pendekatan profesional umumnya menggunakan: 

  • metode yang lebih terstandar
  • analisis tingkat serangan
  • penanganan sesuai jenis tanaman

Insekta Pest Control menyediakan layanan pengendalian hama yang disesuaikan dengan kondisi lapangan—mulai dari identifikasi, treatment, hingga pencegahan jangka panjang. Pendekatannya tidak hanya fokus pada pembasmian, tapi juga menjaga agar serangan tidak kembali di kemudian hari. 

Berikut kontak Insekta Pest Control. 

 


 

Daftar Sumber

  • Dewantara, N. et al. (2017). Efektivitas Beauveria bassiana sebagai Pengendali Hama Belalang Kayu. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
  • Direktorat Jenderal Perkebunan (2020). Sistem Pelaporan OPT (Sipereda OPT).
  • Hochkirch, A. et al. (2019). Valanga nigricornis. IUCN Red List.
  • Inglis, G. D. et al. (1996). Effects of temperature on Beauveria bassiana. Biological Control.
  • Kok, M. L. (1971). Life-history of Valanga nigricornis. Bulletin of Entomological Research.
  • Role, R. M. (2019). Pestisida nabati terhadap belalang kayu. Universitas Sanata Dharma.
  • Setiawan, A. (2008). Uji Efikasi Agens Hayati pada Hama Tembakau. Universitas Sumatera Utara.
  • Zulfahmi (2013). Biologi hama Valanga nigricornis. IPB University. 
Rate this post
Share it :

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.